Posts

Malu dihadapan Tuhan

Image
Suara knalpot bocor dan siraman mentari pagi kembali dan kembali menarik jiwa saya yang selalu tertinggal 305 kilometer dibelakang. Pemandangan kota penuh keramaian, gedung-gedung bertingkat, hingga hiruk-pikuk kesibukan kota bahkan tak mampu mengisi hati saya yang kosong, bagai ember berlubang yang diisi air, bocor airnya kesana kemari, membasahi kedua mata, membanjiri rongga hidung, dan keluar menjadi ingus. Tidak pernah saya menyangka saya se-sentimental ini. Menjadi dewasa dan mengemban tanggung jawab, menjalani hidup sebagai seorang laki-laki, suami, dan Ayah, sambil nyambi menjadi seorang pemimpi. "Mimpilah yang tinggi, tinggi setinggi-tingginya", kata Ibu, "karena Ibu hanyalah seorang ibu, mimpi Ibu tidak menjadi nyata, Ibu tidak mendapatkan kesempatan", katanya lagi sambil mengeluarkan air mata haru melihat saya pertama kalinya dipanggil sebagai dokter di depan banyak anggota keluarga lain di hari saya bersumpah profesi, disampingnya, Ayah saya yang juga me...

Jalan-jalan di perjalanan baru

Image
Setiap awal perjalanan saya di tempat yang baru pasti akan selalu diuji dengan ragam keterbatasan. Tipisnya dompet dan sempitnya ruang gerak menjadi beberapa dari banyak ujian keterbatasan itu, dan saya sangat sadar bahwa itu sudah sepaket dalam sebuah risiko pilihan hidup. Saya memilih, dan sekarang saya menjalani. Namun, Tuhan memberikan kita ujian karena Ia tau bahwa kita mampu dan bisa mendapatkan pelajaran dan makna dari itu semua. Januari 2025. Saya memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Gorontalo. Pilihan yang bahkan sampai sekarang mengundang tanya banyak orang. Teman, rekan kerja, mertua, bahkan saya sendiri. 5W1H beruntun keluar dari mulut mereka, dan hampir semuanya hanya bisa saya jawab dengan "Tuhan pasti akan berikan jalan kalau itu sudah rezeki saya", ambigu, abu-abu. Hari ini, saya duduk termenung, berteduh melihat hujan yang hampir tiap hari membasahi tana h kot a ini. Sudah kayaknya hampir 5 kilometer saya berjalan di sepanjang trotoar entah mau kemana. Be...

Anak yang pernah naik pesawat sendiri

Image
       Saya teringat pertama kali naik pesawat terbang sendiri. Kala itu ingin mengunjungi Ayah yang kerja nun jauh di balik cakrawala sana, tak terlihat, berbatas lautan, berbeda pulau, berbeda provinsi, berbeda waktu, saya yang di Manado masih jam 7, Ayah di Ternate sudah jam 8, disini masih sore, disana sudah malam. Saya masih menginjak SD waktu itu, masih seorang anak kecil yang di kalungi kartu bertulis jelas huruf kapital "UNACCOMPANIED MINOR (UM)". Kartu itu mengistimewakan saya, selalu ditemani, diantar ke pesawat naik mobil khusus, bukan bus kumal yang ramai, diberi makan, dan duduk di kursi paling depan, yang paling luas, priority seat Wings Air, pesawat kelas baling-baling yang selalunya naik turun ketika menabrak awan, entah karena manuver pilot yang jago atau memang bensinnya yang sudah mau habis pikir saya.      Entah mengapa, memori itu akan selalu terpanggil, keluar dari tempat persembunyiannya di otak-Amigdala-Temporal lobe. Setelah m...

Di tengah hujan

Image
     Di tengah hujan hari ini saya merenung. Memikirkan kembali masa depan negara, akhir alam semesta, saudara di Palestina, dan anak yang jatuh semalam. Tanah yang kian basah dan suara rintikan hujan menambah syahdu pikiran saya yang semakin berpesta pora memenuhi kepala. Mungkin efek kopi hitam yang diseruput sedikit-sedikit, yang entah kapan habisnya, membuat saya semakin tenggelam dalam lautan kemungkinan-kemungkinan fana.    Habis ini begini-begitu, besok ini, lusa itu. Kadang saat-saat seperti ini mampir tak disangka, terkadang saat buang air besar, terkadang saat di penghujung malam, terkadang saat motoran. Realita seakan undur diri menjauh, mengizinkan alam bawah sadar muncul sementara. Sejak kecil saya sering dibilang suka melamun, pamit dari keramaian, duduk sendiri sembari melihat mereka, mencari tempat di tengah dunia, apakah saya punya peran?, seperti seorang tokoh utama dalam sinetron India?      Hujan kali ini membuat saya ingin m...

BPJS pun angkat tangan

Image
     Setelah tiga tahun berlalu, sekali lagi saya menginjakkan kaki di 'New York'-nya Indonesia, Jakarta. Kota serba sibuk, padat, dan kental polusi. Kota dengan seribu kesan dan hantaman yang dulu pernah saya coba rasakan, mengeliminasi saya hanya dalam selang waktu sebulan, 'pergi!, kamu tidak cocok disini', katanya. Mental krupuk hancur seketika, dan hanya mereka yang kuat bisa bertahan. Hari ini saya kembali, disambut dengan megahnya bandara Soekarno-Hatta.      Jakarta itu melelahkan, bukan cuma Jakarta, Jabodetabek. Bagi saya mereka yang tinggal dan kerja disini seperti mempunyai kekuatan super. Setiap hari berjalan ratusan meter, berdiri selama kereta bergerak, terbentur-menabrak badan di kiri-kanan, terhimpit, terkantuk-kantuk di perjalanan pergi dan pulang kerja, belum ditambah bau bunga mawar yang bebas berkeliaran di keempat rongga sinus, saling salam-salaman dengan setiap helai nervus olfaktorius, kami menderita transient kakosmia. Lihat, wajah...

Merogoh rupiah terakhir

Image
     Sekarang sudah sekitar dua tahun saya berprofesi utama sebagai seorang dokter. Profesi yang sering kali dibanggakan oleh banyak orang, baik itu orang tua, teman, orang asing, bahkan oleh diri dokter itu. Memang, tampak dari luar, bagi kebanyakan orang, dokter adalah pekerjaan yang sudah menjanjikan hidupnya, sampai hari tua pun masih bisa kerja. Profesi yang menjanjikan untuk bisa kaya, hidup makmur, profesi yang menjual ke calon mertua. Saya pun tidak menyangkal, karena saya juga merasakan kebanggaan itu. Namun, kadangkala saya terlupa, bahwa seorang dokter itu mendapatkan kekayaannya dari mereka yang datang karena sakit, yang susah, dan yang meminta pertolongan.      Hari itu tepatnya malam hari, datang keluarga membawa anaknya yang sakit, demam sudah sekitar dua hari. Mereka panik karena anak itu sempat kejang. Di IGD diterapi sesuai dengan kondisi medis. Segera setelah anak itu membaik dan tanda-tanda vital anak itu normal kembali, keluarga memutus...

Momen sederhana

Image
     Tahun 2023, menjadi tahun petualangan. Tahun dimana saya merantau, menjajaki dunia yang betul-betul berbeda, dunia kerja, dunia keterpaksaan, dunia kedewasaan, dunia kenyataan yang menampar, yang meludahi semua kata-kata bijak pemotivasi hidup. Dunia yang menyadarkan saya untuk terus menoreh tulisan kehidupan.      Tahun ini hampir keseluruhan harinya saya menetap di Bahodopi, Morowali, Indonesia. Sebuah kota yang berselimut dibalik nama desa, saking padat dan kumuh, saking cepatnya putaran waktu juga uang, pengeluaran bulanan yang kemahalan, kemacetan, hujan debu PLTU, polusi, perselingkuhan, pembunuhan, depresi sampai bunuh diri, infeksi menular seksual, pencurian, penipuan, segala bentuk masalah dan konflik sebuah kota ada disini. Namun, dibalik semua konflik itu, saya justru mendapatkan sesuatu yang malah tidak saya harapkan. Kumpulan momen yang sederhana. Bahodopi itu desa yang sangat padat. Hampir tidak ada tanah kosong disini. Rumah, warung maka...