Mencicipi kemiskinan
Dalam 29 tahun saya hidup, dan sebagai anak pertama dari empat bersaudara, saya pernah merasakan kehidupan yang secara ekonomi pas-pasan. Itu kata orang. Saya meyakini itulah kemiskinan. Salah satu momen paling lama yang bisa saya ingat adalah betapa sering Ibu kasbon di warung depan kantor kecamatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kasbon, pada masa itu, saya hanyalah anak polos yang belum mengerti apa-apa. Ketika beranjak dewasa barulah paham, kasbon adalah kata yang lebih halus untuk berhutang. Waktu berjalan cepat bagi saya yang masih kecil, masa-masa itu terasa begitu singkat. Memorinya bahkan bisa dihitung dengan jari, mungkin akan berkurang seiring waktu. Setelah Ibu menderita aphasia motorik, tidak ada lagi teman atau saudara yang bisa berbagi cerita yang sama. Hanya Ibu yang mampu menceritakan masa-masa itu dengan sangat jelas. Ibu adalah seorang pencerita yang sangat baik. Kehidupan keluarga kami tidak selamanya susah. Pada akhirnya, Ayah saya yang tadinya me...