Dijemput Takdir

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya juga turut meramaikan penutupan tahun, dengan bercerita. Tahun ini seakan padat, penuh kesibukan juga tantangan. Pencapaian-pencapaian kecil dicicil, ada yang terhutang dan juga ada yang terbayar lunas. Gambaran masa depan masih berupa sketsa, tergores dengan pensil yang mungkin masih bisa dihapus dan dibenahi. Tapi ada yang berubah, saya kian menikmati indahnya melukis segaris demi segaris di kanvas yang kecil, sambil tetap menabung untuk membeli kanvas yang besar itu.

Banyak terkumpul cerita baru, cerita orang yang pertama kali saya temui, kisah orang lama yang direunikan kembali, menambah beberapa paragraf dan bab di tahun yang terasa singkat ini. Tahun ini tak buruk, tak buruk sama sekali. Doa agar jadi orang kaya, punya rumah mewah, mobil banyak, juga sekolah yang tinggi itu belum terkabulkan, tapi tentang hidup layak dan keinginan untuk berjuang masih ada, terpelihara oleh Tuhan. Doa yang selama ini kami panjatkan perlahan-lahan dijawab satu-persatu, Tuhan memang tak pernah ingkar janji, pastilah itu.

Sedikit cerita untuk menutup tulisan dan tahun ini berasal dari senior saya. Seorang dokter perempuan, perjuangan yang tidak mudah untuk bisa sekolah, gagal dan bangkit, curhatan-curhatan kecil dia dengan nada bergetar masih membekas di ingatan saya. Kegagalannya saat telah berjuang keras menghantam segala kondisi emosionalnya, tapi tetaplah ia berjuang, dan pada akhirnya tergantikan oleh sesuatu yang lebih baik. Tuhan memutar jalannya dari arah yang tak disangka, kini ia sekolah di salah satu perguruan tinggi paling bergengsi di Indonesia. Melihat itu membuat saya lebih yakin untuk tetap berjuang lebih keras. Ketika waktunya, usaha dan doa kita pasti akan dijemput takdir yang baik, aamiin.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.


Comments

Popular posts from this blog

Hayes

Malu dihadapan Tuhan

Manusia Goa