Keajaiban
Seperti yang orang lain tau, menjadi dokter merupakan keistimewaan yang tidak semua orang bisa memilikinya. Hanya segelintir manusia di dunia ini yang bisa membuka pintu untuk masuk ke dimensi ruang penuh darah, ruang yang diselimuti dengan segala emosi manusia, dan ruang penuh harap dan doa. Dokter memiliki kesempatan melihat canggihnya tubuh manusia, melihat kompleksnya sistem organ, memiliki akses legal untuk memodifikasi kerja tubuh serta ilmu untuk memperbaikinya jika ada sesuatu yang salah. Dokter juga menjadi saksi akan “keajaiban” yang kerap datang ke ruangan ini.
Bagi saya pribadi “keajaiban” itu datang dari Tuhan, tapi Tuhan menginginkan kita bisa mencari tau asbab musabab “keajaiban” itu. “Keajaiban” dalam dunia kedokteran sering diartikan sebagai segala hal yang terjadi yang berada di luar segala konsep kemungkinan yang telah dibayangkan. Contohnya seperti pasien yang seketika membaik menembus angka kecil dalam presentase survival rate sebuah penyakit. “Keajaiban” dalam dunia kedokteran harus bisa dijelaskan berdasar data yang ada, apakah pernah ada kasus serupa sebelumnya?, kalau belum ada catatan tentang itu, dokter bisa melaporkan kasus itu dalam sebuah seminar ilmiah, menjelaskan apa yang menjadi alasan seorang pasien itu bisa membaik atau tiba-tiba sekarat. Terkadang, saya bingung mendengar ada orang yang bercerita penyakit patah tulangnya bisa sembuh sehari hanya dengan semburan “air suci” orang “pintar”, atau ketika ada yang bercerita tumor otaknya hilang tiba-tiba hanya dengan daun-daunan, dan cerita-cerita yang lain yang sampai sekarang saya belum bisa mendapatkan contoh kasusnya didepan mata atau di artikel kedokteran. Bagi seorang dokter, “keajaiban” itu bisa menjadi anugerah kalau bisa ditelusuri dan dipelajari, sehingga orang lain yang mempunyai kasus serupa bisa mendapatkan “keajaiban” yang sama. “Keajaiban” yang terdata itulah yang menciptakan ilmu kedokteran seperti sekarang, bagaimana kita memberikan obat, bagaimana kita melakukan teknik operasi dan lainnya, walaupun terkadang tidak semua hasil data itu bisa sama dampaknya kepada semua orang, karena tidak bisa dipungkiri, setiap manusia itu unik dan berbeda.
Selama saya menjalani profesi ini, tidak sedikit saya mendapatkan pasien yang yakin sembuh dari obat atau operasi, tidak ada yang salah sebetulnya, hanya saja, kadang kita lupa apa dan siapa yang sebenarnya menyembuhkan itu. Dalam dunia masyarakat awam, kebanyakan mereka meyakini bahwa minum obat adalah sesuatu yang mujarab, tindakan operasi adalah pengobatan yang pasti sembuh. Namun, dalam dunia kedokteran, kemampuan seorang dokter untuk menyembuhkan orang itu tidak lepas dari sempurnanya ciptaan Tuhan, mekanisme dasar manusia, fisiologi manusia, vasokonstriksi, vasodilatasi, inflamasi, remodelling, regenerasi, neuroplastisitas, dan banyak mekanisme yang notabene adalah kemampuan tubuh agar bisa sembuh sendiri, segala pengobatan yang kita berikan itu pada dasarnya hanya bersifat mengurangi gejala, mengarahkan, dan mempercepat proses sembuh, begitu pula dengan operasi, yang merupakan jalan terakhir, jalan satu-satunya yang ada untuk menuju kesembuhan, jalan berliku dan banyak risiko. Operasi itu ibarat jalan rusak tanpa aspal di kompleks perusahaan tambang, yang bahkan mobil sekelas land cruiser pun akan baret dan lecet, bisa jadi sampai rusak dan tidak sampai ke tujuan.
Kehidupan seorang dokter adalah sebuah anugerah dan cobaan dalam waktu bersamaan. Seperti kalimat Frank Vertosick, “doctor just like politician, we stress the good things”, kita mempertanyakan dan khawatir akan segala hal, hal yang baik, lebih parah lagi pada hal yang buruk. Orang lain mungkin berharap setiap harinya bisa berbeda, tapi seorang dokter berharap agar hari ini sama seperti hari kemarin, aman sentosa. Saya pun selalu begitu, berdoa dan berharap akan “keajaiban” kesembuhan bagi setiap pasian saya. Semoga kian hari kita semakin tersadar betapa besarnya kasih sayang yang Tuhan berikan, juga betapa sempurnanya Tuhan menciptakan kita. Alhamdulillah.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Comments
Post a Comment