Anak yang pernah naik pesawat sendiri
Saya teringat pertama kali naik pesawat terbang sendiri. Kala itu ingin mengunjungi Ayah yang kerja nun jauh di balik cakrawala sana, tak terlihat, berbatas lautan, berbeda pulau, berbeda provinsi, berbeda waktu, saya yang di Manado masih jam 7, Ayah di Ternate sudah jam 8, disini masih sore, disana sudah malam. Saya masih menginjak SD waktu itu, masih seorang anak kecil yang di kalungi kartu bertulis jelas huruf kapital "UNACCOMPANIED MINOR (UM)". Kartu itu mengistimewakan saya, selalu ditemani, diantar ke pesawat naik mobil khusus, bukan bus kumal yang ramai, diberi makan, dan duduk di kursi paling depan, yang paling luas, priority seat Wings Air, pesawat kelas baling-baling yang selalunya naik turun ketika menabrak awan, entah karena manuver pilot yang jago atau memang bensinnya yang sudah mau habis pikir saya.
Entah mengapa, memori itu akan selalu terpanggil, keluar dari tempat persembunyiannya di otak-Amigdala-Temporal lobe. Setelah menampakkan dirinya, ia akan menghibur saya, berkata bahwa sayalah anak itu, anak yang pernah naik pesawat sendiri, anak pemberani. Ia seakan membolak-balikkan emosi saya yang murung menjadi lebih percaya diri. Betapa saya bersyukur akan memori itu, memori yang selalu menemani saya dalam kesendirian.
Terpantul-pantul saya yang duduk di samping sopir rental itu. Mobilnya melaju kencang, top speednya 60 km/jam, tapi mual saya dibuatnya. Mobilnya ceper, kenalpotnya racing, mesinnya batuk-batuk. Duduk di tengah saya dan sopir ada asisten sopirnya, berakrobat bak pemain sirkus, kakinya menjuntai panjang mengambil sepertiga ruang kaki saya dan si sopir. Tongkat porsneling sering kali menabrak area vitalnya kala sopir tancap gas menaikkan kecepatan, tapi anehnya, lelap saja ia tertidur. Kadang lutut kirinya bersalaman dengan kepala saya, tikungan tajam ke kiri, tuk! Assalamualaikum, tikungan tajam ke kanan, Waalaikumsalam, brak! Pintu membalas.
Pengalaman naik rental memang selalu berbeda tiap episodenya. Pernah dalam sebuah perjalanan, saya sangat senang ketika melihat kursi baris belakang dan belakangnya lagi kosong melompong. Kala itu hanya saya, si sopir, dan para tumpukan kiriman di bagasi, tidak banyak. Kursi saya mundurkan maksimal ke belakang, sandarannya disandarkan sesandar-sandarnya. Ahh, tak pernah udara mobil rental sesegar itu, tak ada suara muntah di belakang, tak ada sandaran di bahu, tak ada sempit-sempitan. Kebahagiaan. Tapi ternyata nasib memang nasib, tak setengah perjalanan, sopir rental itu singgah mengambil kiriman. Kiriman dalam bentuk jerigen-jerigen yang terisi cairan berbau tajam, menggetarkan bulu hidung dan menusuk indra penghidu saya, mengamuk nervus olfaktorius ingin cabut. Sekitar sepuluh jerigen ukuran 10 liter berisi CT (cap tikus) berdesak-desakkan di baris kedua yang sudah dilipat kursinya. Bahkan kursi saya maju semaju-majunya. Sandaran disandarkan setegak-tegaknya hampir tegak lurus, memprioritaskan minuman setan itu. Saya mual sepanjang perjalanan yang masih kurang lebih 6 jam, lebihnya 4 jam, 10 jam! Sialan!
Akan ada hikmah dalam setiap perjalanan. Benar sekali, hikmahnya adalah tidak ada ceritanya naik mobil rental akan nyaman aman sentosa. Janganlah jatuh di lubang yang sama dua kali. Benar sekali, pelajaran berharganya, jangan lagi naik mobil rental di kemudian kesempatan. Tapi bosku, uang ta' hanya mampu naik rental, ah sudahlah, nasib ya nasib.
Terakhir, saat menulis cerita ini, saya ditinggalkan mobil rental yang sudah saya pesan. Alasannya saya tidak memberi arahan yang jelas, padahal sudah saya kirimkan titik lokasi penjemputan, google maps pula. Zaman sekarang memang masih ada sopir yang tidak tau ikuti arahan google maps? As-tagfirullah!
Sayalah anak itu, anak yang pernah naik pesawat sendiri, anak pemberani.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya

Comments
Post a Comment