Pilihan Terakhir

  


 Dalam sehari, sebuah Puskesmas dapat melayani sekitar 50 kunjungan, dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Keluhan tiap mereka beragam, karakter mereka juga lebih beragam. Berpapasan, bertegur sapa, dan menanyakan keluhan kadang kala menjadi hal yang menantang batin, menjaga emosi menjadi lebih sulit dari memahami proses siklus Krebs. Keseharian saya selalu berkutat dengan beragam macam karakter pasien, ada yang langsung marah, emosian, ada yang panik mengeluh sudah mau mati, ada yang diam tak peduli, ditanya tak menjawab, ada pula yang tiba-tiba akrab bak teman lama, dan yang paling menyebalkan adalah pasien yang jawabnya iya-iya saja tapi tidak mengerti sama sekali setelah 10 menit lamanya saya ceramah, ternyata hanya paham bahasa daerah. Tentu saja, batas kesabaran saya bisa habis dan keluarlah nada suara dan gaya bicara yang tidak mengenakkan di telinga saya dan orang lain.

Saya menyadari, proses ini adalah bagian dalam menjalankan tugas profesi saya, ya namanya sebuah proses, pastilah tidak bisa dihindari. Menjadi dokter berarti menjadi pelayan. Tugas dokter adalah tugas melayani, seyogyanya melayani, ada etika yang harus diikuti, seperti berempati. Empati, salah satu sikap yang penting ada dalam insan setiap dokter. Tapi, terkadang, empati itu bisa hilang karena kita tidak berada dalam kondisi yang prima fisik dan mental untuk menjalani hari, akibatnya pelayanan menjadi tidak maksimal, berimbaslah kepada pasien yang mungkin mendapatkan terapi yang tidak pas.

Baru-baru ini saya mengikuti sebuah kegiatan Latsar (Latihan dasar) secara daring. Terdapat satu pertanyaan pemateri yang saya ingat.

“Kira-kira, kalau bisa memilih, kalian mau sekolahkan anak-anak kalian dimana?, disekolah swasta  atau negeri?, atau berobatnya maunya dimana?, dirumah sakit swasta atau negeri?,”

Kami semua pun dengan kompak memilih swasta, alasannya karena pelayanannya yang baik dan lingkungannya bersih. Pemateri itu pun lanjut bertanya:

“Terus kenapa masih sekolah di sekolah negeri atau berobat ke Puskesmas dan rumah sakit daerah?,”

    Kami pun terdiam, tidak menjawab. Bukan tidak tau, tapi karena kami tau jawabannya sangat menusuk hati, karena kami dan mereka tidak punya uang.

    “Karena mereka tidak punya pilihan,” jawabnya sendiri. “Menurut kalian, kalau mereka punya pilihan, apakah mereka akan datang sama anda?,” lanjutnya, kami hanya diam. “jadi jangan merasa tinggi, karena anda hanyalah opsi terakhir, satu-satunya pilihan yang bisa mereka ambil.”

    Hal itu sebenarnya sudah saya tau sejak lama, saking lamanya sampai tertumpuk di dasar pikiran. Saya tertampar, tepat di lubuk hati.

    Sejak saat itu, kemampuan saya dalam mengolah emosi kian menguat. Pernyataan “karena mereka tidak punya pilihan” selalu menjadi pengingat agar saya tetap selalu beretika, menggunakan selalu empati dalam tiap percakapan.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Hayes

Manusia Goa