Mencicipi kemiskinan
Dalam 29 tahun saya hidup, dan sebagai anak pertama dari empat bersaudara, saya pernah merasakan kehidupan yang secara ekonomi pas-pasan. Itu kata orang. Saya meyakini itulah kemiskinan. Salah satu momen paling lama yang bisa saya ingat adalah betapa sering Ibu kasbon di warung depan kantor kecamatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kasbon, pada masa itu, saya hanyalah anak polos yang belum mengerti apa-apa. Ketika beranjak dewasa barulah paham, kasbon adalah kata yang lebih halus untuk berhutang.
Waktu berjalan cepat bagi saya yang masih kecil, masa-masa itu terasa begitu singkat. Memorinya bahkan bisa dihitung dengan jari, mungkin akan berkurang seiring waktu. Setelah Ibu menderita aphasia motorik, tidak ada lagi teman atau saudara yang bisa berbagi cerita yang sama. Hanya Ibu yang mampu menceritakan masa-masa itu dengan sangat jelas. Ibu adalah seorang pencerita yang sangat baik.
Kehidupan keluarga kami tidak selamanya susah. Pada akhirnya, Ayah saya yang tadinya merantau ke provinsi tetangga memetik hasil jerih payahnya. Kehidupan ekonomi kami membaik. Kami ikut Ayah merantau. Walaupun tidak bergelimang harta, setidaknya kehidupan kami nyaman di perantauan. Saya disekolahkan di sekolah terbaik di kota itu, saya merasakan naik mobil pribadi yang ber-AC, saya juga diantar jemput oleh seorang supir mobil. Ketika pulang mudik, kami adalah keluarga yang mampu untuk membeli pizza dan ayam kentaki asli. Saya ingat ketika sebuah gerai pizza terkenal yang baru buka. Kami adalah keluarga pertama yang membawa pizza itu ke kampung. Aroma pizza yang masih hangat itu membuat teras rumah kami dikerubungi teman-teman saya. Pizza itu dimutilasi oleh belasan tangan. Momen itu sangat membekas. Saya masih mengingat senyum lebar dan sorai teman-teman saya di hari itu. Momen pizza hanyalah salah satu dari banyak ingatan disaat keluarga saya berada di puncak kejayaannya. Bertahun-tahun tidak lagi saya merasakan hidup susah. Tidak lagi, tidak sampai beberapa bulan terakhir ini…
Akhir tahun ini terasa cukup berat bagi saya. Entah mengapa, ekonomi selalu terasa tak cukup. Dompet saya menipis, token listrik berbunyi, saldo sudah mengering di sepuluh hari terakhir bulan berjalan. Saya merogoh saku celana, saku baju, kolong-kolong, dan beragam tempat. Uang koin lari berdencing-dencing, berusaha kabur dari jari-jari saya. Menemukan uang di tempat tersembunyi menjadi sebuah momen eureka. Saya tertawa dalam kesedihan.
Hahaha.
Ternyata sudah lama sekali waktu itu berlalu. Sudah sekitar 20 tahun, saya sampai lupa bagaimana rasanya. Ternyata begini rasanya miskin. Rasanya sangat tidak enak. Perut keroncongan, tidur pun tak bisa. Malam terasa hampa karena kuota internet sudah menipis. Bunyi meteran listrik bertambah cepat, dua kali kecepatan biasa, seakan berteriak mengancam bahwa ini adalah hari terakhir ia menyala.
Air mata saya menetes. Bukan, bukan karena lapar, bukan juga karena teriakan token listrik yang makin menjadi-jadi. Melainkan karena saya berusaha memahami perasaan Ibu saya di masa lalu. Bagaimana perasaannya saat berhutang, saat tak ada uang, apakah ia malu?, apakah sedih?, apakah dia juga menangis saat saya tidur? Juga bagaimana perasaan Ayah saya yang kala itu jauh di perantauan?, mungkin juga ia menangis dalam diam, cemas, juga merasa tak berdaya. Akhirnya. Saya pun juga merasakannya.
Walaupun hanya sekedar dicicip. Kemiskinan ini tetap menjadi sebuah momen yang menarik di tahun ini. Saya kembali menyadari, harta dan kekayaan itu memang benar hanya titipan. Kemiskinan itu bukan hilang dan pergi, melainkan hanya menyisih, memberikan jalan agar kekayaan berada di tempatnya untuk sementara. Hal ini membuat saya menjadi lebih bisa berempati. Menjadi manusia yang lebih utuh. Saya tentu tidak bisa melewati beragam cobaan dan tantangan ini tanpa dukungan istri tercinta dan juga do’a orang tua. Saya meyakini bahwa inilah ujian kehidupan itu. Saya berusaha meraih mimpi yang besar, tentu saja ujian yang dijalani juga berat. Tapi, apakah saya akan menyerah?
Semoga Allah meridhoi jalan yang saya tempuh ini. Aamiin.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Comments
Post a Comment