Malu dihadapan Tuhan
Suara knalpot bocor dan siraman mentari pagi kembali dan kembali menarik jiwa saya yang selalu tertinggal 305 kilometer dibelakang. Pemandangan kota penuh keramaian, gedung-gedung bertingkat, hingga hiruk-pikuk kesibukan kota bahkan tak mampu mengisi hati saya yang kosong, bagai ember berlubang yang diisi air, bocor airnya kesana kemari, membasahi kedua mata, membanjiri rongga hidung, dan keluar menjadi ingus. Tidak pernah saya menyangka saya se-sentimental ini. Menjadi dewasa dan mengemban tanggung jawab, menjalani hidup sebagai seorang laki-laki, suami, dan Ayah, sambil nyambi menjadi seorang pemimpi. "Mimpilah yang tinggi, tinggi setinggi-tingginya", kata Ibu, "karena Ibu hanyalah seorang ibu, mimpi Ibu tidak menjadi nyata, Ibu tidak mendapatkan kesempatan", katanya lagi sambil mengeluarkan air mata haru melihat saya pertama kalinya dipanggil sebagai dokter di depan banyak anggota keluarga lain di hari saya bersumpah profesi, disampingnya, Ayah saya yang juga me...